Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2020

Maafkan Dirimu








Beberapa waktu lalu, aku mendengarkan sedikit sharing dari salah satu publik figur di Indonesia lewat IG Live. Themanya tentang parenting sebenarnya namun ada satu kalimat yang beliau utarakan mengusik hati aku sendiri (dan seperti pas dengan apa yang aku lagi alami)

Kira-kira begini kalimatnya : 

"Kalau kurang disini besok coba lagi. Kurang disana besok coba lagi. Maafin diri sendiri. Kan Tuhan kasih hari baru tiap hari."



Maafin diri sendiri  ?

Dahiku berkerut seraya memikirkan arti dari kalimat itu.


Sehari sebelumnya . . .

Seperti biasa aku suka mikirin mau kerjain apa pas di kantor. Dalam otakku udah dirancang akan kerjain ini, kerjain itu. Ter-planning gambaran besarnya. Tapi kenyataanya, hari itu aku kudu kerjain yang bukan bagian dari perencanaanku dan wajib selesai. Karena masih dari tanggungjawabku juga, akhirnya aku kerjain. Tugas itu buayaaakkk banget dan kudu melalui proses panjang. Masalah datang dari diriku sendiri. Meski aku berhasil mengerjakan deadline bejibun tersebut, ada rasa tidak puas. Yap. Aku tak puas karena plan aku berantakan semua. Bisa dikatakan plan yang aku buat tidak berhasil dijalani.


Dalam keadaan demikian, aku tetap berusaha untuk bahagia. Mengubah sudut pandang, menenangkan hati and say "It's okay Jess".


***


Mengapa harus mulai memafkan diri sendiri ?


Pertanyaan perenungan diri sendiri selama sepekan ini.


Beberapa poin yang bisa aku share buat kalian :


1.  Kita sudah lebih dulu diampuni Tuhan
- Kita ini hamba dosa. Upah dosa itu maut. Kita sebenarnya gak layak dapat kehidupan. Tapi karena cinta-Nya Dia mau datang dan mengampuni kita.


2. Belajar menerima diri apa adanya
- Percayalah setiap kita unik. Kita memiliki journey yang berbeda-beda. Sekelam atau secerah apapun hidup kita, itu adalah hidup kita sendiri. Semakin kita menyadari keberadaan kita yang berharga, semakin kita bisa terima diri apa adanya.


3. Menjaga kesehatan mental
- Aku pribadi, memang lagi fokus sama hal ini. Sebagian keputusan kita datang dari seberapa tajam kita mengelola mental, kecerdasaan emosional kita. Oleh sebab itu, manage kesehatan mental sama pentingnya dengan manage kesehatan fisik.


4. Kita jadi secure
- Yes, gak ada lagi namanya ketakutan tak berarti. Keputusan yang kita buat lahir dari kesadaran rasa aman kita. Jadi lebih kokoh dan ontentik.



***

Kalau kita bisa memaafkan diri sendiri secara utuh, (tentu dengan pertolongan Tuhan) kita mampu untuk memaafkan orang lain lebih tulus dan ikhklas.


It's okey ada yang gagal.

It's okey hari ini tidak sesuai rencana

It's ok temen nyebelin

It's okay masa lalu kita kurang baik

It's okay, everything is gonna be okey


But this remember,

Jadilah pribadi yang hari makin hari bertumbuh dan berbuah, supaya banyak orang yang diberkati.


***


Bagian mana dalam hidupmu yang perlu dimaafin ?

Yuk maafkan-maafkan.


NB : Memaafkan gak perlu nunggu lebaran kok ^^

Senin, 11 September 2017

Dikenal Dunia atau Dikenal Tuhan ?

Setelah sekian lama terdiam, akhirnya terisi dengan cerita ini ...
Kebiasaan selesai saat teduh adalah bobo lagi .. Kali ini dapat mimpi yang bikin aku speachless

Begini cerita dalam mimpi :
Di suatu perbukitan terdapat siklus kehidupan (makan, minum, tidur, bekerja, rekreasi, beranak cucu). Bisa dikatakan penduduknya banyak banget termasuk aku. Mereka melakukan aktifitas seperti biasanya. Aku menemukan sekelompok orang yang gak suka seseorang dan mencoba menghasut aku agar seperti mereka.

Tiba-tiba ...
Ada suara gemuruhh besaaaaarrrr bangeeett. Seketika seluruh penduduk ketakutan termasuk aku. Gemuruh itu tak hanya mengeluarkan suara yang serem namun menguncangkan apa yang ada di perbukitan. Semua orang mencar mencari tempat aman. Lalu aku mendengar seoarang pria memanggil dan berkata :

"Sini naik ke atas bukit"

Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah yang dimaksud lalu aku diam di dekat bangunan yang hampir roboh. Gemuruh tersebut semakin besar dan aku melihat goncangannya membuat perbukitan di bawah tenggelam termasuk orang-orangnya. Banyak orang berusaha naik melawan goncangan itu namun gagal. Singkat cerita, banyak orang yang tak selamat.

Tersisalah seperempat penduduk (dugaankuu), termasuk aku. Setelah gemuruh pertama selesai, mereka melakukan aktifitas kembali. Kali ini, hatiku gak tenang, aku nangis-nangis, aku melihat ada orang-orang yang santai dan tetap hidup dengan cara lama bahkan aku dengar seseorang yang berkata :
"Ayoo hidup kaya dulu lagi (baca berbuat dosa)" 

aku bilang sama Tuhan :
"Tuhaaaannn ampunii akuu.. aku janji gak berbuat dosa lagi"

Aku nangis sejadi jadinya sambil lari. Bunyilah gemuruh berikutnya, aku sangat ketakutan aku tak mau mati dengan cara seperti itu. Ada seseorang yang bilang :

"Ayoo kita pergi dari sini" 

Semua penduduk naik ke sebuah mobil yang tidak besar. Aku kejar-kejaran dengan orang-orang agar bisa naik mobil itu. Supaya gak ketinggalan. Ternyata aku kalah saing sama orang sehingga aku tak bisa naik mobil.

Disitu hati makin gak karuaan, kaya pasrah. Ada seorang yang tiba tiba turun dan mengajak aku segera naik mobil karena sudah jalan. Aku berhasil dan seorang itu menghilang entah kemana. Hatiku tersentuh dengan perbuatannya. Aku menangkap dia tetap baik sama siapa aja sekalipun orang tersebut pernah buat 'onar' di hidupnya.  Finally, terbangun dari tidur.

 
***


2 Korintus 5:17 (TB) "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."


Dari mimpi itu aku belajar, dapat rhema :
1. Kehidupan yang kita punya sekarang adalah anugerah dan kesempatan. Syukuri dan bijaklah.
2. Mengubah cara hidup kita. Cara hidup berbicara tentang perbuatan, perkataan, pikiran, mindset, tingkah laku kita. Kudu makin baik, makin positif, makin sesuai Firmannya.
3. Mengakui dosa-dosa kita sama Tuhan Yesus.


***


Kolose 3:1-4 (TB) :
(1) "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah."
(2) "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."
(3) "Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah."
(4) "Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan."


***


That's my point, lewat mimpi itu Tuhan kasih lihat keadaan hidup kita. Bagaimana merespon sesuatu. Bagaimana cara kita mengelola kehidupan ini. Introspeksi diri, kita ada di titik mana sekarang. Jangan sampai waktunya tiba kita kehilangan kesempatan untuk bertobat.
Sekian tulisan kali ini semoga memberkati kalian semua.

Yuks, sama sama berjuang menjadi pemenang sejati .


***


"Penyembahan bukan apa yang kita minta. Penyembahan adalah apa yang bisa kita beri kepada Tuhan."


Rabu, 19 April 2017

Pilkada : Jakarta Punya Cerita


Kali ini ceritaku di sponsori oleh Pilkada Jakarta Putaran Kedua :)

Lest cekidot..

Setelah menempuh perjalanan super dramatis (akibat macet tak kelar-kelar), sampailah di TPS 22 Jakarta Pusat, kecamatan Sawah Besar, Kelurahan Kartini dan memberikan form C6 kepada petugas.

"HP nya ttitp dulu ya" kata seorang petugas yang menerima form C6 ku

"Loch untuk apa dititp ?" Tanyaku penuh keheranan.

"Silakan baca aja disini" (menunjukkan papan yang berisi banyak tempelan kertas dan gambar).

Beberapa saat aku mencari keterangan yang menyatakan bahwa HP harus di titip dan sampai nama ku di panggil tak jua kutemukan.

"Dimana pak ? Saya tidak menemukan ?"

"Ya, tapi tetap HP nya harus dititp"

"Bisa tunjukan buktinya atau surat resmi ?"

Dan apa yang terjadi ....

Seorang ibu petugas menjawab :

"Ini sudah peraturan kami dan tidak ada yang masalah soal ini."

"Ya, saya hanya ingin melihat bukti asli yang menerangkan aturan ini karena hanya di TPS ini saja ada hal seperti ini, sementara TPS-TPS lain tidak."

Yak, mereka kelabakan karena tidak bisa menunjukkan bukti yang kuat dan sah. Malahan lempar sana, lempar sini. Intinya, terjadi 'perbicangan' singkat.

Aku pun menerima surat suara dan masuk ke bilik untuk melakukan pencoblosan. Mungkin, aku agak lama di bilik itu sampai salah satu petugas berusaha menghampiriku, padahal kondisi di TPS tersebut sangat sepi.
Sayang, waktu bapak itu menghampiri, aku udah selesai menyoblos dan mau masukin surat suaranya. (Maaf pak, kalah cepet :D )

***


Di hati kecilku rasanya janggal banget, gak damai.

Pertama, baru kali ini ada aturan HP kudu dititip. Padahal di pemungutan suara sebelumnya (putaran ke-satu atau pemilihan-pemilhan lainnya gak ada aturan ini. TPS yang sama loch.

(kalaupun di pemutaran pertama gak boleh bawa hp, lantas kenapa waktu ada peserta yang bawa hp gak ditegor ?)

Kedua, mereka tidak bisa menunjukkan bukti yang kuat.


Aku tidak paham, apakah memang seperti ini aturannya dari pemerintah, Kecamatan or Kelurahan ?

Penjelasan yang mereka kasih pun gak menunjukkan alasan yang masuk akal dan signifikan. Saya sangat menyayangkan hal tersebut.


Dua kata : SUPER ANEH!


***

Ini bukan mau mengjudge atau apa ya.. Ini hanya pemikiran and pendapat aku aja.

Mungkin  maksud mereka HP dititpin biar peserta fokus dalam mencoblos dan gak ada antrian panjang di TPS.

Hati nuraniku bilang : Ini modus kebohongan dan kecurangan.

Bisa aja, saat penghitungan suara ada kecurangan.

Gak boleh bawa HP karena pasti peserta akan foto jika menemukan hal-hal aneh terus di upload terus dilaporin ke KPU terus mereka ketakutan.


***



Ini TPS ku, mana TPS mu



Jujur, agak kecewa dengan TPS 22 Jakarta Pusat, kecamatan Sawah Besar, Kelurahan Kartini. Tapi mau gimana lagi yaa, mereka merasa benar tanpa bukti yang kuat. Dan aku tidak mau memperpanjang 'perbincangan' di TPS tadi.. Hahaha...


Pelajaran yang aku dapat adalah :

"Satu kejujuran menyelamatkanmu. Satu kebohongan menjatuhkanmu."


Sekali lagi, cerita ini ditulis dan dipublikasikan bukan untuk menjatuhkan tetapi ingin berbagi pengalaman dengan kalian semua. Kiranya, dari cerita ini pembaca mendapatkan hikmah dan pelajaran penting tentang kehidupan.


Siapapun Gubenur yang terpilih untuk DKI Jakarta, itu adalah yang terbaik dari Tuhan dan dapat mengemban tugasnya dengan sangat baik sesuai visi misi yang mereka kumandangkan selama kampanye.


Ini adalah ceritaku tentang Pilkada Jakarta Putaran Kedua :)


Jakarta, 19 April 2017



Jessica




Jumat, 25 November 2016

Bangku Sekolah : Akhir atau Awal ?





Tiba-tiba menemukan puisi ini yang aku buat 7 tahun lalu.

Mendadak, kangen sekolah. Hahaha..

Setelah itu melow sendiri setelah baca puisi ini lagi.

Satu hal yang mau aku sampaikan, dulu aku belum mengerti dengan apa yang diberikan oleh guru-guru aku. Kadang, harus sedikit ditempa agar menjadi lebih baik. Apapun yang sudah diberikan oleh guru-guruku sejak dulu itu ibarat benih dalam hidup aku. Waktu proses 'membajak' dan 'menanam'nya memang tidak kelihatan bahkan butuh extra tenaga, extra waktu, dan extra lainnya. Setelah aku tidak duduk di bangku sekolah, aku baru mengerti dan merasakan benih-benih itu (baca : pengajaran, bimbingan, perhatian, bahkan omelan. Hihihi^) mulai tumbuh dan terus tumbuh dan menghasilkan buah.

Orang-orang yang disebut 'guru' bukan saja guru-guru kita sewaktu masih sekolah. Kalau sudah bekerja, pemimpin atau rekan kerja kita bisa menjadi guru. Kalau di lingkup kerohaniaan, pendeta, mentor, atau kakak pembina adalah guru kita. Dan ingat, guru pertama di dalam hidup kita adalah orangtua. Jangan lupa untuk berterima kasih kepada mereka yaa :)


Menutup tulisan ini ada satu quotes menarik yang aku pikir tidak hanya untuk seseorang berstatus guru saja, tapi buat kita semua.

"Lebih dari 80% orang-orang hebat di dunia ini berjumpa minimal dengan 1 orang guru dalam hidupnya. Di tangan gurulah seorang History Maker dilahirkan... Jadi sesulit apapun keadaanmu. Tetaplah mengajar dengan hati dan ketulusamu."-JosuaWahyudi


***

Guruku

Dulu,
Aku tak mengerti apa-apa
Segalanya gelap dan buta
Dulu,
Aku berjalan di ruang malam
Tanpa pernah tahu apa tujuanku
Dulu,
Aku seperti barang yang tak berguna
Dan di hempaskan begitu saja
Seperti dedaunan yang gugur di musim panas

Tapi,
Segalanya berubah
Gelap yang menyelimuti ini
Menjadi terang karena pelita
Karena hadirnya sinar mentari

Aku tak lagi barang yang di hempaskan
Aku menjadi menawan
Karena di perbaruhi oleh cinta dan kasih

Kini,
Ku bukan seperti seorang bayi
baru lahir tanpa mengerti
Ada penerang, penuntun, pembimbingku

Kaulah guru ku
Kaulah wakil Allah kedua di dunia
Kaulah pelita dalam kegelapan
Dan kaulah pahlawan

Karena mu,
Aku tahu berbagai hal
Aku dapat membaca dan menulis
Mengetahui berbagai macam ilmu di dunia

Karena diri mu,
Aku belajar meniti esok hari
Membawa bekal yang telah disiapkan, diberikan bagiku

Guruku tersayang, guruku tercinta,
Terima kasih untuk pengorbanan dan ketulusan hatimu
Tanpamu, apa jadinya ku ?
Jasamu akan tertanam dalam sanubariku
Namamu akan melekat hingga tutup usiaku

Terima kasih,
Kau ajarkan ku tentang kehidupan
Tentang dunia yang fana ini
Biarlah,
Seluruh jerih lelahmu
Tuhan yang perhitungkan

Guruku tersayang, guruku tercinta,
Terimalah permohonan maafku untukmu
Terimalah penggalan kata sederhana ini
Hanya sebuah doa,
Yang mampu ku titipkan pada Tuhan

Tetaplah menjadi pelita dan embun penyejuk




Jumat, 04 November 2016

Satu Hari Lagi : Edisi Anniversary COOL KOPASUS




We are family




Semua berawal dari Facebook . . .

Notifikasi kenangan yang diberikan mengingatkanku pada tanggal ini dan perjalanannya.

4 November 2013 silam,

Secara resmi membuka COOL baru di rumah yang diberikan nama SATPOL PP (sampai sekarang gak tau kepanjangannya apa :D ). 

Jadi SATPOL PP adalah ‘saudara kandung’ dari KOPASUS. 

Dalam perjalanannya, banyak hal yang dilewati sampai akhirnya SATPOL PP dan KOPASUS memilih menyatu kembali.

Tepat, 1 September 2016, 

Tuhan teguhkan aku lagi untuk ‘naik kelas’ di COOL ini
 
Sungguh sebuah hal yang besar dan tidak pernah aku minta. 

Sebenarnya, tidak ada kata-kata yang sanggup menjelaskan semua ini.

Sepanjang hari ini hanya terharu dan bersyukur dengan semua perbuatan tangan Tuhan. Gak pernah nyangka udah sejauh ini Tuhan tuliskan cerita-cerita-Nya.


Di hari spesial ini, Jessica mau bilang  ..


Terima kasih buat Kak Pras selaku kakak Pembina kami sebelumnya. Sudah memberikan kami bekal yang cukup untuk terus berjalan bersama Tuhan.


Untuk Kak Bambang selaku kakak Pembina + koordinator KOPASUS yang selalu setia bangkitkan semangat kami sama Tuhan.


Untuk Ci Cahaya selaku kakak Pembina yang tidak pernah lelah bimbing COOL ini juga.


Buat Ci Rifka, Rachel, Fifi, Kevin, Jerry, Hogan, Yelin, dan teman-teman lainya.


Terima kasih kasih selalu kasih warna di COOL ini.



Harapanku dan harapan kita juga, semakin hari semakin unity, terus setia bangun COOL ini dan selesaikan sama-sama  Terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan dipakai Tuhan secara luar biasa. Tetap rendah hati. Ganbatte! :D

Jesus bless us.



“Jiwa yang bersyukur, akan berbahagia bahkan di atas masalah. Percayalah bersyukur itu ajaib! God is good all the time.”

Kamis, 18 Februari 2016

DIA Penulis Dan Sutradaraku (5)

Ketika mimpi dan cita-cita harus tertunda.

Sedih yang dalam masih aku rasa sampai saat ini.

Kuliah dan lulus wisuda adalah salah satu impian besarku setelah memasuki dunia perkejaan.

Apa daya keterbatasan financial dan tanggung jawab sebagai seorang anak memaksa untuk menunda impian itu.

Hingga suatu hari . . .

Seperti angin segar menghampiri.

Seseorang,  yang tak lain adalah boss ku menawarkan beasiswa pendidikan.

Terharu bahagia menjadi ekspresiku pertama kali.

Selama sebulan mencari informasi-informasi kampus dan memutuskan di salah satu universitas di Jakarta.

Senang pastinya karena bisa merasakan lagi 'kursi panas' pendidikan, bertemu pengajar-pengajar yang unik, teman-teman yang memiliki karakter yang berbeda-beda.

Berjalannya waktu . . .

Aku mulai menemukan sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang baru aku sadari dan pahami.

Satu kali.

Dua kali.

Sampai waktu mengizinkan aku sakit yang belum pernah aku alami.

Infeksi kelenjar.

Pergulatan batin pun dimulai.

Pada satu hari istimewa, 

Dingding putih di dalam ruangan itu menjadi saksi bisu pernyataan dua pilihan.

Lagi-lagi hanya air mata yang mampu menceritakan semua itu.

Berdoa

Meminta tuntunan dari-Nya
Ketika kedua pilihan sama-sama penting

Makin mendekati hari 'pemutusan' 

Arah yang aku dapat tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan

Akhirnya . . .

Aku berhenti sejenak dari masa pendidikan ini dan mengakhiri kontrak pendidikan

Banyak yang menyayangkan, terutama keluarga aku

Tapi ini hasil akhir yang aku dapat (di episode hidup ini)


 ***


Proses ini membuatku belajar :

1. Semua doaku di jawab Tuhan
Lewat boss aku sebagai perantaranya Tuhan, aku bisa kuliah. Bisa belajar di sebuah gedung yang disebut universitas, di sebuah ruangan yang disebut pembelajaraan, Bisa berinteraksi dan terlibat langsung dengan orang-orang yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya.


2. Fokus dan prioritas
Setiap manusia memiliki banyak keinginan, namun tidak semua keinginan bisa terwujud dalam satu waktu. Tidak semua keinginan adalah destiny hidup kita. Tidak semua keinginan adalah kebutuhan.
Aku diingatkan, diajarin lagi, mana yang jadi fokus hidup aku sebenarnya. Memilah-milah skala prioritas yang harus aku tetapkan. Ketika kita tahu fokus dan prioritas kita, jalan yang kita tempuh akan semakin ringan dan bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


3. Visi
Ibarat tempat tujuan itulah visi. Ibarat bahan bakar itulah semangat. Setiap manusia memiliki visi hidup. Agar visi tercapai, kita membuat rencana dan strategi. Terkadang, rencana dan strategi kita kurang tepat bahkan menjauh dari visi semula. Disini Tuhan mengingatkan, apakah rencana dan strategi yang kita susun sudah sesuai dengan rancangan-Nya ? Tiga kata yang jadi rhema banget : "Jangan kehilangan visi". Sekalipun jalan yang Tuhan berikan tidak sesuai yang kita harapkan, tetap pegang visi itu sampai Tuhan genapi.


4. Tanggungjawab dan kepercayaan dari Tuhan (baca:pelayanan)
Kerjakan terus dengan sungguh-sungguh setiap kepercayaan yang sudah Tuhan berikan di dalam hidup kita. Jangan sekali-kali meninggalkan hal tersebut karena akhirnya adalah kehancuran. Balik lagi ke point 2, apa fokus dan prioritas yang sebenarnya.


***

Mungkin ini pahit. Tapi aku mau bilang selalu ada Kebaikan dalam situasi buruk. Ketika kita hanya mampu merencanakan kehidupan 10.000 km, Tuhan sanggup merencanakan 100.000.000 km bahkan lebih dari itu.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.


Pertanyaannya, maukah kita mengikuti setiap jalan-jalanNya ?


Kamis, 13 Agustus 2015

Second Life : Kau Hadir Untuk Sebuah Alasan






"Sayur ini memang pahit, tapi kalau kamu sudah biasa merasakan pahit, tubuhmu pasti akan mendapatkan manfaat dari sayur ini. Pahit itu hanya sementara, sayang"


Kutipan di atas saya temukan saat membaca sebuah novel (sampai sekarang judul novelnya lupa). Kemudian saya merenungkan makna tersurat dari kalimat tersebut. Melihat kembali diri saya.

“Pahit ?”

“Sudah biasa ?”

“Manfaat ?”

“Hanya sementara ?”

Dalam tulisan kali ini saya membawa perenungan, pertanyaan di atas pada peristiwa setahun lalu. Saat saya kecelakaan.



13 Agustus 2014.

Kecelakaan bukan impian yang saya inginkan. Tetapi malam itu waktu berkata lain. Saya harus mengalami. Yang saya lakukan saat itu, teriak, marahin yang nabrak. Kemudian saya merasakan sakit yang luar biasa pada kaki kanan. Saya tidak bisa menopang tubuh saya sendiri. Singkat cerita, saya menjalani pengobatan demi pengobatan. Lamban laun saya sudah bisa menopang tubuh saya.


Berdasarkan pertanyaan di atas :

1.     Pahit ?
Tentu. Peristiwa ini hampir meluluhlantahkan hati saya. Dalam masa pengobatan dan pemulihan saya sempat berpikir kenapa gak detik itu malaikat penyambut nyawa datang.

2.     Sudah biasa ?
     Tidak. Siapa yang berharap kecelakaan.

3.     Manfaat ?
Awalnya saya tidak merasakan manfaat apa-apa. Saya masih marah dengan orang yang tidak bertanggung jawab itu, saya memprotes hidup ini. Saya berharap untuk mengakhiri semuanya. Akhirnya, saya belajar untuk mengampuni, semakin setia dengan proses.

4.     Hanya sementara ?
Saat saya belum belajar satu hal, saya meragukan kata hanya sementara. Berjalannya waktu (dengan pengobatan-pengobatan yang saya jalani) saya sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa.



**

Ketidakpastian dalam hidup tidaklah selalu menyenangkan. Kita berusaha untuk merancangkan, memperkirakan, mengusulkan apa yang ingin terjadi dalam hidup kita, tetapi sering kali kita seperti menebak-nebak saja. Kita tidak memiliki gambaran apapun yang akan terjadi tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok, bahkan beberapa detik berikutnya. 

Seperti kecelakaan yang saya alami contohnya. Padahal saya sudah merencanakan segera sampai rumah, makan, menyegarkan pikiran dan tubuh saya .



Jalan hidup kita tidak dapat diduga. Ada begitu banyak hal yang tidak akan pernah saya ketahui secara pasti. Namun demikian, saya mengetahui bahwa ada Allah yang mengetahui segalanya dan mengasihi saya sepenuhnya. Dan dengan mengenal Dia, saya dapat “diam” dengan tenteram. —Bill Crowder 



Memang pertama kali saya sukar menerimanya. Bertanya mengapa saya harus mengalami ini ? Bertanya mengapa saya tetap hidup ? Seiring berjalannya waktu, saya belajar, adakalanya Tuhan pilih sesuatu yang kita tidak suka agar rencanaNya tergenapi di dalam hidup kita. Beliau ingin kita mengalami peningkatan hidup. Tidak stuck atau jalan di tempat. Tuhan Yesus ingin kualitas hidup kita semakin sepertiNya. Saya pun di ingatkan, bahwa Dialah yang memiliki ‘blue print’ hidup saya.



“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”-Mazmur 46:11



Tulisan ini saya buat untuk mengenang kembali pahit hidup (kecelakaan) dan manisnya penyertaan Allah. Inilah proses hidup bagi saya. Jika Tuhan tidak menuliskan ini dalam buku-Nya, saya pun tidak akan bertumbuh dan mendapatkan hadiah istimewa-Nya.


Saya juga mengucapkan terima kasih untuk orang yang sudah menabrak dan pergi tanpa kata. Semoga Anda tetap berbahagia :)


Jika Tuhan memiliki ‘blue print’ hidup saya, Tuhan yang sama juga punya ‘blue print’ hidup Anda. Mari, belajar menyelaraskan jalan kita dengan-Nya.




Pemeliharaan Allah adalah kepastian yang dapat kita andalkan dalam ketidakpastian hidup.


(Jessica Natallia)