Tampilkan postingan dengan label Hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hope. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Ruang ICU

Pernah ke ruang ICU atau Intensive Care Unit ?

Aku pernah, beberapa tahun lalu.

Biasanya orang yang di rawat di ruang ICU karena penyakit yang cukup serius dan perlu penanganan khusus.

Aku teringat cerita mamanya temanku yang menjaga suaminya di ruang ICU selama sebulan. Beliau berkata : Beberapa kali melihat langsung seseorang mengakhiri hidupnya disana. Waoh! Aku merinding dan berpikir seolah-olah ruangan itu mencekam sekali. Bahkan ada orang yang berpendapat, ruang ICU adalah ruang penghantar kematian.

Serem yaa permisah ..

Jika ruang ICU begitu mencekamkan,

"Mungkinkah masih ada harapan hidup ?"

"Berapa persen harapan hidup orang-orang di ruangan itu ?"

***

Seperti berada di ruang ICU itulah yang aku alami akhir-akhir ini. Suasana semakin tidak kondusif, berbagai tekanan datang silih berganti, serta mimpi-mimpi yang ingin dituntaskan.

"Tuhan apakah harapan itu ada ?"

"Berapa persen pengharapan yang aku miliki ?"

"Apakah aku akan mati di 'ruang ini' ?"

Dari semua pertanyaan, peluh dan air mata, ada satu hal yang diingatkan ;

KASIH.

"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

IA, satu Pribadi yang rela beri hidupnya untukku juga kalian hanya karena teramat mencintai kita. Karena tak ingin jauh dari dari kita. Karena ingin kita hidup dalam pengharapan yang pasti. Di hati-Nya kita sangat berharga.

Ingat dan percayalah, tak selamanya ruang ICU mengantarkan kita kepada kematian. Balik ke cerita di atas, suami mamanya temanku akhirnya pulih dan sembuh dari sakitnya.

Jika papa temanku menerima satu pengharapan dan kehidupan itu, maukah aku dan kamu bangkit dari 'kematian' kepada 'kehidupan' yang dijanjikan-Nya ?

Maukah aku dan kamu terima pengharapan yang pasti itu ?

***

Sekalipun aku tak punya dasar untuk berharap, namun ku mau tetap percaya bahwa harapan yang ku taruh di dalam-Nya takkan sia-sia. Kelak, tergenapi sesuai waktu-Nya. #Whyihavehope yang aku sadari, cinta Tuhan yang teramat besar buatku. Cinta-Nya yang memampukan lewati setiap musim hidupku. #Whyihavehope Tuhan memiliki rencana indah dalam hidupku.

***

Yuck ceritakan #Whyihavehope kamu dan bagikan #Whyihavehope di campaign #goeverywhere.

***

"Bukan apa yang kita punya yang menentukan hari depan kita. Tetapi pengenalan dan pengharapan akan Tuhan yang menentukan hari depan kita.

Senin, 02 Mei 2016

Kekuatan Dari Kematian

"Saat Anda mati untuk diri sendiri dan hidup sesuai dengan rencana Tuhan, Anda akan menghasilkan kehidupan yang produktif dan bermanfaat bagi orang lain."

Kalimat di atas menarik perhatian saya beberapa hari ini dan menjadi perenungan saya.

Apa artinya mati untuk diri sendiri ?

Apakah dimasukan ke dalam peti, ditangisin, didoain, lalu dikubur di tanah ?

Ternyata tidak. Bukan mati seperti itu.

Satu kata yang saya dapat dari mati untuk diri sendiri adalah comfort zone atau zona nyaman.

Nyaman adalah kata sifat yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

1 segar; sehat: badannya berasa -- disinari matahari pagi; 2 sedap; sejuk; enak: suaranya merdu, -- didengar;

kenyamanan/ke·nya·man·an/ n keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan

Naluri sebagai manusia mencari rasa aman. Sesuatu yang di nilai sangat baik.

Contoh : Ada seseorang setiap hari makan di restoran termahal. Pergi kemana-mana dengan mobil tercanggih. Suatu hari, ia di minta untuk makan di kaki lima dan pergi menggunakan angkutan umum. Apa reaksi beliau ? 99,99% menolak. Mengapa ? Karena sudah terbiasa dengan pola hidup yang demikian. Ia berpikir dengan makan di kaki lima dan naik angkutan umum tidak enak.

Comfort zone juga berbicara hal-hal yang masih kurang tepat dalam hidup kita.

Tahukah, berada di zona nyaman tidak benar-benar nyaman ? Tidak benar-benar baik ? Seringkali, keadaan yang aman justru membawa kita ke 'jurang' yang paling dalam.

Apakah yang menjadi zona nyaman kita saat ini ?

Pekerjaankah ?

Jabatankah ?

Uangkah ?

Sekolahkah ?

Pasangankah ?

Pacarkah ?

Bahkan

Pelayanankah ?

***

Saya teringat sebaris syair lagu yang bilang gini : "ku telah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama..."

Mati = keluar dari zona nyaman kita.

Keluar berarti meninggalkan. Tidak lagi tengok-tengok yang dulu. Mulai melangkah ke depan dimana banyak hadiah yang menanti.

Keluar dari zona nyaman memang tidak enak. Butuh sacrifice dan kerendahan hati. Tapi yakinlah, itu hanya sementara. Lewat berbagai hal yang tidak enak itu (berproses), sebenarnya kita sedang melangkah kepada kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang setiap kita impikan, lebih baik, lebih berarti, lebih bermanfaat.

Kita tidak akan menggenapi panggilan hidup kita jika tidak mau 'mati' untuk diri sendiri.